laboratorium inspirasi psikologi kesehatan & seksualitas cinta

Kursi Kosong di Perpustakaan Tua

Di sudut kota yang tak pernah muncul di peta mana pun, berdiri sebuah perpustakaan tua yang tampaknya ditinggalkan oleh waktu. Dindingnya retak-retak, dan pintunya berderit seperti mengaduh setiap kali dibuka. Tak ada penjaga. Tak ada pengunjung.

Kecuali satu.

Seorang pria tua dengan jas panjang dan topi fedora usang, selalu duduk di kursi paling pojok. Kursinya berbeda dari yang lain—lebih gelap, lebih usang, dan... lebih sunyi.


---

Suatu hari, Adrian—seorang mahasiswa filsafat yang sedang jenuh oleh hidup dan tugas akhir—masuk ke perpustakaan itu karena hujan yang turun mendadak. Ia hanya ingin berteduh, tapi rasa penasaran membawanya menjelajah rak-rak berdebu yang tampak seperti tak tersentuh selama puluhan tahun.

Ia melihat si pria tua duduk, membaca sebuah buku tanpa judul. Adrian mendekat dan berkata basa-basi,
“Buku apa yang Bapak baca?”

Pria itu tak menjawab. Ia hanya menggeser kursi di depannya, seolah mengundang Adrian untuk duduk.

“Aku sedang membaca hidupmu,” ujarnya akhirnya. Suaranya pelan tapi dalam—seperti gema yang menyentuh bagian-bagian kepala yang tak pernah disentuh kata-kata.

Adrian mengernyit. “Maaf?”

“Kau sedang bingung dengan tujuan. Kau mencari makna. Tapi tak pernah tahu harus mulai dari mana.”

“Lalu... apa yang harus saya lakukan?”

Pria itu menutup bukunya perlahan. “Buka halaman pertama dari pikiranmu. Lupakan apa yang pernah diajarkan. Tanyakan kembali semua yang tampak jelas. Mulailah bukan dari jawaban, tapi dari kejujuran atas pertanyaanmu.”

Kemudian ia berdiri. Jasnya berkibar oleh angin yang tak terasa. Ia melangkah pergi.

Dan kursi itu... tetap kosong sejak hari itu.


---

Adrian kembali ke perpustakaan itu berkali-kali. Tapi kursi itu, entah bagaimana, tak pernah lagi bisa diduduki siapa pun. Seolah sedang menunggu seseorang—yang benar-benar ingin menemukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelumnya Posting Lama